Rabu, 05 April 2017

Laporan Pemeriksaan Logam Berat Timbal ( Pb )dan Arsen (Ar ) Pada Kue Kukis dan Udang


Mata kuliah         : PMM – A
Dosen                   : Khiki Purnawati Kasim, SST., M.Kes

LAPORAN PEMERIKSAAN LOGAM BERAT PADA MAKANAN (TIMBAL ( Pb ) dan ARSEN ( As ) PADA PUKIS DAN UDANG)

OLEH :

MUH . ZULKHAEDIR
PO.71.4.221.15.1.026
D.IV / II.A


KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PRODI D/IV
2017




1.      LANDASAN TEORI



Manusia bukan hanya menderita sakit karena menghirup udara yang tercemar, tetapi juga akibat mengasup makanan yang tercemar logam berat. Pencemaran lingkungan oleh logam berat dapat terjadi jika industri yang menggunakan logam tersebut tidak memperhatikan keselamatan lingkungan, terutama saat membuang limbahnya. Logam-logam tertentu dalam konsentrasi tinggi akan sangat berbahaya bila ditemukan di dalam lingkungan (air, tanah, dan udara).Sumber utama kontaminan logam berat sesungguhnya berasal dari udara dan air yang mencemari tanah. Selanjutnya semua tanaman yang tumbuh di atas tanah yang telah tercemar akan mengakumulasikan logam-logam tersebut pada semua bagian (akar, batang, daun dan buah). Selanjutnya manusia yang termasuk ke dalam kelompok omnivora (pemakan segalanya), akan tercemar logam tersebut dari empat sumber utama, yaitu udara yang dihirup saat bernapas, air minum, tanaman (sayuran dan buah-buahan), serta ternak (berupa daging, telur, dan susu).

Beberapa contoh logam berat yang beracun bagi manusia adalah: arsen (As), kadmium (Cd), tembaga (Cu), timbal (Pb), merkuri (Hg), nikel (Ni), dan seng (Zn).Mengkonsumsi makanan yang mengandung cemaran logam berat yang tinggi dapat menyebabkan berbagai masalah diantaranya menyebabkan kanker, merusak ginjal dan merusak jaringan-jaringan tubuh lainnya, bahkan dapat menyebabkan kematian.Bilamana bahan makanan tersebut tercemar logam berat seperti Pb (Timbal) maka bahan makanan asal hewani tersebut menjadi tidak aman lagi bagi konsumennya. Apabila Pb (Timbal) masuk kedalam saluran pencernaan akan diabsorpsi oleh dinding usus kemudian masuk ke dalam darah dan berikatan dengan hemoglobin yang menghambat pembentukan sel darah merah sehingga sel darah merah mudah pecah dan menyebabkan anemia. Pb (Timbal) merupakan logam berat yang sangat beracun dan sumber utamanya berasal dari komponen gugus alkyl timbal yang digunakan sebagai bahan aditif  bensin dan sumber utamanya adalah makanan dan minuman.

Arsen (As) adalah salah satu logam toksik yang sering diklasifikasikan sebagai logam, Tetapi lebih bersifat nonlogam. Tidak seperti logam lain yang membentuk kation, Arsen (As) dialam berbentuk anion, seperti H2AsO4 (Ismunandar, 2004). Arsen (As) tidak rusak oleh lingkungan, hanya berpindah menuju air atau tanah yang dibawa oleh debu, hujan, atau awan. Arsen (As) dialam ditemukan berupa mineral, antara lain arsenopirit, nikolit, orpiment, enargit, dan lain-lain. Demi keperluan industry mineral, Arsen (As) dipanaskan terlebih dahulu sehingga As berkondensasi menjadi bentuk padat.

Arsen (As) berasal dari kerak bumi yang bila dilepaskan ke udara sebagai hasil sampingan dari aktivitas peleburuan bijih baruan, Arsen (As) dalam tanah berupa bijih, yaitu arsenopirit dan orpiment, yang pada akhirnya bisa mencemari air tanah. Arsen (As) merupakan unsur kerak bumi yang berjumah besar, yaitu menempati urutan keduapuluh dari unsure kerak bumi, sehingga sangat besar kemungkinannya mencemari air tanah dan air minum.

 

2.      TUJUAN PEMERIKSAAN
1)      Untuk mengetahui kadar Pb ( Timbal ) pada Makanan Kukis yang dijual dipasaran kota Makassar
2)      Untuk mengetahui kadar As ( Arsen ) pada udang yang berada di wilayah pannampu kota Makassar



3.      ALAT DAN BAHAN
1.      Kue Kukis pada pemeriksaan Timbal ( Pb )

ü  Alat
a.       Gelas ukur atau beacker glass ( ukuran 10ml, dan 80 ml )
b.      Aquadest
c.       Superquant nova60
d.      Mortal atau pastle

e.       Pb test
f.       Timbangan Digital atau Neraca digital atau stirrer
g.      Kertas aluminium foil

ü  Bahan
a.       Sampel makanan Kukis di pasar kota makassar
b.      Reagen Pb
c.       aquadest

ü  Prosedur kerja
a.       Menyiapkan alat dan bahan
b.      Timbang kukis sebanyak 10 gr pada timbangan digital yang dilapisi kertas aluminium foil
c.       Masukkan kukis yang telah ditimbang ke mortal untuk dihaluskan
d.      Masukkan aquadest sedikit demi sedikit ke kukis yang di haluskan
e.       Setelah halus, kukis kemudian di masukkan ke gelas ukur 80 ml
f.       Kemudian isi 5ml kukis yang telah dihaluskan dalam gelas ukur berukuran 10 ml
g.      Kemudian beri reagen Pb sebanyak tiga tetes kemudian di homogenkan
h.      Kemudian periksa ke superquant nova 60
i.        Setelah itu catat hasil

2.      Udang pada pemeriksaan Arsen ( as )

ü  Alat :
a.       Gelas ukur atau beacker glass ( ukuran 10ml dan 80 ml )
b.      Erlenmeyer
c.       Mortal atau pastle
d.      Botol arsenates

e.       Indicator universal
f.       Kertas aluminium foil
g.      Neraca digital atau timbangan digital

ü  Bahan :
a.       Sampel Udang dari pannampu kota Makassar ( Pelelongan ikan )
b.      Aquadest
c.       Arsenic test
Ø  Reagen arsen ( 1 )
Ø  Reagen arsen ( 2 )

ü  Prosedur kerja :
a.       Menyipkan alat dan bahan
b.      Timbang sampel udang sebanyak 10 gr pada timbangan digital atau neraca digital yang dilapisi dengan kertas aluminium foil
c.       Masukkan sampel udang yang telah ditimbang ke dalam mortal untuk kemudian dihaluskan
d.      Masukkan aquadest sedikit demi sedikit ke sampel udang  yang di haluskan
e.       Setelah halus,sampel udang  kemudian di masukkan ke gelas ukur 80 ml sebanyak 10 ml
f.       Kemudian masukkan udang yang telah dihaluskan ke dalam botol arsenates sebanyak 10 ml
g.      Masukkan reagen 1 sebanyak 1 sendok arsenates dan reagen 2 sebanyak 2 sendok arsenates
h.      Kemudian masukkan kertas arsenic test dalam botol arsenic test lalu diamkan selama 20 menit
i.        Setelah 20 menit periksa warna arsen yang ada pada botol arsenic test
j.        Baca hasil kemudian catat


4.      METODE PRAKTIKUM


1)      SPEKTROFOTOMETRI

Spektrofotometri merupakan suatu metode analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan mengguankan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detector Fototube. Dalam analisis cara spektrofotometri terdapat tiga daerah panjang gelombang elektromagnetik yang digunakan, yaitu daerah UV (200-380 nm), daerah Visible (380-700 nm), daerah Inframerah (700-3000 nm).
Prinsip kerja spektrofotometri berdasarkan hokum Lambert-Beer, bila cahaya monokromatik (I0),melalui suatu media (larutan), maka sebagian cahaya tersebut diserap (Ia), sebagian dipantulkan (Ir), dan sebagian lagi dipancarkan (It). Transmitans adalah perbandingan intensitas cahaya yang di transmisikan ketika melewati sampel (It) dengan intensitas cahaya mula-mula sebelum melewati sampel (Io). Persyaratan hokum Lambert-Beer antara lain : Radiasi yang digunakan harus monokromatik, rnergi radiasi yang di absorpsi oleh sampel tidak menimbulkan reaksi kimia, sampel (larutan) yang mengabsorpsi harus homogeny, tidak terjadi flouresensi atau phosphoresensi, dan indeks refraksi tidak berpengaruh terhadap konsentrasi, jadi larutan harus pekat (tidak encer).
2)      KOLORIMETRI
Kolorimetri adalah suatu metoda analisis kimia yang didasarkan pada tercapainya kesamaan warna antara larutan sampel dan larutan standar, dengan menggunakan sumber cahaya polikromatis dengan detektor mata.
Persyaratan larutan yang harus dipenuhi untuk absorbsi sinar tampak adalah larutan harus berwarna. Oleh karena itu metoda spektroskopi sinar tampak disebut juga dengan metoda kolorimetri dan alatnya disebut dengan kolorimeter. Kolorimeter didasarkan pada perubahan warna larutan yang sebanding dengan perubahan konsentrasi komponen pembentuk larutan.
Oleh karena itu aspek kuantitatif merupakan tujuan pengukuran dengan metoda ini. Syarat pewarnaan ini antara lain :
1.      Warna yang terbentuk harus stabil.
2.      Reaksi pewarnaan harus selektif.
3.      Larutan harus transparan.
4.      Kesensitifannya tinggi.
5.      Ketepatan ulang tinggi.
6.      Warna yang terbentuk harus merupakan fungsi dari konsentrasi.
Cara analisis ini merupakan bahwa tua atau mudanya suatu warna larutan zat atau senyawaan tergantung pada kepekatannya. Dalam visual kolorimetri biasanya dipakai cahaya putih dari matahari atau cahaya lampu biasa dan biasanya dipakai alat-alat pembanding yang sederhana yang disebut dengan color comparator atau pembanding warna. Bila sebagai pengganti ketajaman mata kita diganti dengan suatu photoelectric detektor maka alat itu disebut kolorimeter photoelectric. Metoda kolorimetri terbagi atas 2 bagian yaitu
1.      Metoda kolorimetri visual : Menggunakan mata sebagai detektornya.
2.      Metoda fotometri : Menggunakan fotosel sebagai detektornya.

5.     HASIL

1.      ARSEN ( As )
Nama Pengambil                     : Yosi Anjas Ningrum
Sampel                                    : Udang
Tempat / Asal                          : Pannampu ( Pelelongan ikan/laut )
Tanggal / Waktu                      : 2 April 2017 / 18.30 WITA
Tujuan                                     : Pemeriksaan Kadar Arsen ( As )
Hasil Pemeriksaan Arsen        : 1,476 Mg/l x 5 ( pengenceran ) = 7,38 mg/l



2.      TIMBAL ( Pb )
Nama Pengambil                     : Yosi Anjas Ningrum
Sampel                                    : Kue Kukis
Tempat / Asal                          : Pannampu ( Sekitar Pasar )
Tanggal / Waktu                      : 3 April 2017 / 06.30 WITA
Tujuan                                     : Pemeriksaan Kadar Timbal ( Pb )
Hasil Pemeriksaan Arsen        : 0,02 Mg/l

6.      ANALISA HASIL
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil dalam pemeriksaan kadar timbal ( Pb ) pada  Kukis di pasaran kota Makassar yaitu 1.476/1.000 mg/l x 5 ( pengencer ) = 7.38 Mg/l ( Mg/Kg ) dan Arsen ( As ) pada Udang di deaerah pannampu kota Makassar adalah 0.02 Mg/l ( Mg/Kg ).
Berdasarkan Standar Nasional Indonesia ( SNI ) no.7387 tahun 2009 tentang Batas Maksimum Cemaran Logam Berat Dalam Pangan dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan ( BPOM ) Nomor 17 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Peraturan Badan Pengawasan Obat dan Makanan Nomor HK.03.1.23.07.11.6662 Tentang Persyaratan Cemaran Mikroba dan Logam Berat dimana standar Arsen ( As ) pada Udang mentah adalah antara 0.5 Mg/kg - 1.0 Mg/Kg dan Timbal ( Pb ) pada Kue Kukis atau makanan olahan dengan berbahan dasar tepung atau terigu  adalah antara 0.05 Mg/Kg – 1.0 Mg/Kg. Sehingga pada hasil pemeriksaan  :
1.      Timbal ( Pb ) pada Kue Kukis di pasaran wilayah Pannampu kota Makassar dapat disimpulkan berdasarkan SNI dan BPOM bahwa Kue Kukis tersebut tidak sesuai dengan syarat atau standar yang ada.Hal ini dapat terjadi karena lokasi tempat pembuatan kue kukis tersebut berada di pinggir jalan dan di dekat pasar yang lingkungan  setiap harinya terkontaminasi dengan udara yang kotor dan asap kendaraan sehingga hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya cemaran atau masuknya logam berat pada makanan olahan tersebut.
2.      Arsen ( As ) pada Udang di pelelongan ikan/laut wilayah pannampu kota Makassar dapat disimpulkan berdasarkan SNI dan BPOM bahwa udang tersebut belum memenuhi standar persyaratan yang ada. Hal ini dapat terjadi diperkirakan karena udan yang diperoleh dari laut atau pelelongan memiliki tempat yang kurang terjaga kebersihannya dan bercampur dengan udara dan kondisi sekitar tempat penjualan udang tersebut.Sehingga kemungkinan yang dapat terjadi Arsen ( As ) pun mempengaruhi kualitas udang .


7.      KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dengan menggunakan sampel kue kukis dan udang yang ada di wilayah Pannampu kota Makassar untuk tujuan pemeriksan Arsen ( As ) dan Timbal ( Pb ), maka dapat disimpulkan bahwa sampel udang dan kue kukis masih belum atau tidak memenuhi standar atau persyaratan baku mutu logam berat pada makanan berdasarkan SNI dan BPOM .
 

8.      DOKUMENTASI HASIL PRAKTIKUM

1)      Spektroquant Nova60 ( Alat Pemeriksa Timbal )

        

2)   Proses Memasukkan Reagen Ke Dalam Sampel Kue Kukis

        

3)   Sampel Kue Kukis dan Udang yang Telah Dihaluskan

        

4)   Pembacaan Hasil Arsenic Test pada sampel Udang
 
      
 







 
 


 
 





12 komentar:

  1. laporannya sangat bermanfaat isi materinya lengkap. terimah kasih sangat membantu

    BalasHapus
  2. Laporannya bsa menjadi referensi

    BalasHapus
  3. bagus, pertanyaan saya, Yg mana yg pling berbahaya antara Pb dan As?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas pertanyaannya saudari bella safira.. Kalau ditanya masalah bahayanya dua2nyaa berbahaya namun cara dan proses dari 2 logam berat ini berbeda untuk Mempengaruhi sitem yg adal dalam tubuh khususnya apabila terkontaminasi ke makanan atau minuman.... Diantara kedua logam berat tersebut arsenlah yg paling cepat terlihat dampaknya pada tubuh apabila terkonsumsi secara terus menerus karena efek tercepat yg ditimbulkan ada gejala kanker kronis yg merusak ginjal dan menjadi racun yg menyebar cepat ke tubuh yg dapat mematikan....

      # terimakasih semoga bermanfaat

      Hapus
  4. Haloo zul, kita sekolompok kan ? Saya mau meluruskan sedikit ada kesalahan pada hasil yg anda posting yaitu hasil untuk arsen sebenarnya hasil dari pemeriksaan timbal begitu juga sebaliknya haha punyaku juga begitu tadinya...
    Arigato

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya bagaimana saudari yosi???
      Bisa diperjelas dulu karena waktu pemeriksan timbal dan arsen itu hasilnya...

      Hapus
  5. Assalamualaikum Zul, Wah laporannya sangat lengkap mulai dari peraturan hingga dokumentasi. Saya ingin bertanya pada laporan ini dituliskan bahwa metode kolorimetri terbagi atas dua, jadi pertanyaannya metode kolorimetri mana yang digunakan pada praktikum yang telah dilakukan ?
    Syukron :)

    BalasHapus
  6. Bagaimana mekanisme keberadaan arsen pada udang melalui udara,seperti yg ada dalam analisa hasil?Daftar pustaka tidak ada....

    BalasHapus

Laporan Pemeriksaan Mikroorganisme Pada Sampel Makanan dan Minuman

Dosen               : Khiki Purnawati Kasim, S.ST., M.Kes Mata Kuliah     : PMM-A (Penyehatan Makanan dan Minuman – A) PEMERIKSAAN ...